Sabtu, 08 April 2017

MAKALAH PERAN ROH KUDUS BAGI KEHIDUPAN ORANG PERCAYA






PERAN ROH KUDUS DALAM KEHIDUPAN ORANG PERCAYA





BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Roh Kudus merupakan penolong yang lain tetapi dari satu jenis yaitu Allah sendiri.  Roh Kudus adalah janji Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya.  Di dalam Kisah Para Rasul diceritakan bahwa para rasul menerima kuasa dari Roh Kudus sehingga mereka dapat melakukan mujizat.  Dalam gereja mula-mula yang didirikan para rasul peran Roh Kudus sangat penting.  Roh Kudus yang mendiami setiap orang yang telah percaya kepada Kristus membuat kehidupan mereka berubah drastis.  Dalam I Korintus 1:26 adalah bukti tentang berubahnya orang-orang yang telah menerima Roh Kudus di dalam hati mereka karena percaya kepada Yesus.  Jemaat mula-mula sangat pesat pertumbuhannya walaupun didera penderitaan yang sangat besar. 
Dikaitkan dengan masa sekarang kekristenan berkembang di seluruh dunia.  Roh Kudus masih bekerja sampai sekarang dalam kehidupan berjemaat.  Peran Roh Kudus dalam jemaat zaman sekarang hal yang penting yang memberikan dorongan untuk memberitakan kabar baik yaitu Injil keselamatan.  Berkembangnya berbagai denominasi gereja membuat teologi dan doktrin tentang Roh Kudus semakin variatif.  Namun yang menjadi penekanan adalah bagaimanapun doktrin yang diajarkan penerapan karya Roh Kudus dalam karunia Roh sangat besar.  Karunia Roh yang berkembang sekarang dijadikan satu pemicu untuk menjadi kesaksian bagi orang-orang yang belum percaya.  Banyak kebaktian kebangunan rohani yang diadakan yang memberikan karunia penyembuhan sebagai sarana kesaksian dan pembuktian bagi semua orang bahwa Roh Kudus bekerja sampai sekarang dan akan terus bekerja sampai selamanya.  Kehidupan yang baru dari buah pertobatan adalah kunci untuk menerima janji tentang pimpinan Roh Kudus.









B.         Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan kita uraikan dalam makalah ini, yaitu:
1.      Bagaimana pengertian Roh Kudus ?
2.      Bagaimana Peran Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya?
3.      Apa saja macam-macam buah Roh ?
4.      Bagaimana mewujudkan peran Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya?

C.   Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Mengetahui pengertian Roh Kudus
2.      Mengetahui Peran Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya
3.      Mengetahui macam-macam buah Roh
4.      Mengetahui bagaimana mewujudkan peran Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya


















BAB II
PEMBAHASAN

1.             PERAN ROH KUDUS BAGI ORANG PERCAYA
Sebagai orang percaya, Roh Kudus mempunyai peran penting dalam menumbuhkan kerohanian.  Dalam setiap aspek kehidupan, Roh Kudus menjadi sangat sentral.  Tanpa Roh Kudus, hidup orang percaya tidak mempunyai arti sama sekali.  Karena Roh Kuduslah orang percaya dapat mengenal Allah Bapa dan Yesus.
A.             Membawa kepada kebenaran
Roh Kudus juga disebut Roh Kebenaran.[1]Banyak orang percaya yang terus mencari akan kebenaran firman Allah.  Tanpa Roh Kudus, tidak ada seorang pun yang akan memahami setiap kata yang ada dalam firman Tuhan.  Walaupun seseorang itu sangat pintar tapi tanpa Roh Kudus, dari segi penafsiran akan jauh sekali dari kebenaran.  Walaupun manusia belajar banyak dari manusia tetapi seseorang tidak dapat bergantung semata-mata kepada manusia, sebab manusia telah memiliki Guru ilahi yaitu Roh Kudus.Sekeras-kerasnya manusia berupaya untuk memahami tentang Allah atau yang Ilahi namun nanti manusia akan sampai kepada titik kebingungan.  Pada titik inilah manusia akan menjadi kabur pandangannya,
Hal yang terberat yang ada adalah saat manusia itu malah tidak mempercayai Allah itu ada.  Seseorang yang tidak mau dikuasai Roh Kudus tidak akan mampu untuk mengenal Allah yang transenden dan imanen tersebut.  Bisa dikatakan kalau seseorang tersebut tidak dipimpin oleh Roh Kudus maka dia juga tidak mengenal Allah Bapa.  Yoh 16:13 dengan jelas mengatakan kalau Roh Kudus memimpin kepada seluruh kebenaran sehingga tidak ada kata-kata yang menyangkal tanpa Roh Kudus seseorang tak akan mampu untuk memahami kebenaran, karena kebenaran itu berasal dari Allah sendiri.  Orang yang diajar Roh Kudus walaupun ia tidak tahu bahasa aslinya, akan lebih mengetahui firman Allah daripada orang yang tidak diajar oleh Roh Kudus, meskipun ia pandai dalam bahasa aslinya. Pernyataan ini adalah jaminan bagi orang percaya, bahwa bukan kepandaian yang menentukan seseorang tahu dan memahami kebenaran yang sejati tetapi Roh Kuduslah yang akan membimbing orang mengenal kebenaran itu. 
Kebenaran yang mutlak adalah bahwa Roh Kudus yang menjadikan manusia itu mengerti akan kebenaran itu sendiri.  Dalam I Korintus 2:9-14 dikemukakan du bagian pekerjaan Roh Kudus:
Roh Kudus menyatakan kepada manusia hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah, dan berkata-kata tentang karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan oleh hikmat manusia, yang merupakan kebodohan bagi manusia duniawi.Roh Kudus menjelaskan penyataan-Nya, yaitu memberikan kuasa untuk mengerti, mengetahui dan menerima pengajaran yang diajarkan-Nya.  Roh Kudus ialah pemberi ilham untuk Firman Allah yang dituliskan, dan Ia juga yang menulisdan menegaskan Firman itu.Ketika seseorang dibukakan mata rohaninya maka dapat mengerti akan kebenaran-keberan yang tersembunyi yang selama ini ia tidak tahu.  Roh Kudus yang membuka akan mata hatinya untuk dapat mengerti tentang kebenaran Firman Allah. 
Seseorang akan dapat mengerti sebuah kitab dengan lebih mudah apabila si punulis itu ada disampingnya untuk menerangkan isi kitab itu.Ketika manusia berada dalam pimpinan Roh Kudus maka ia akan dibuka pikirannya sehingga ia dapat mengerti akan apa yang dia tidak mengerti dahulu sebelum Roh Kudus yang memimpin.  Tanpa Roh Kudus tidak ada orang yang dapat mencapai kebenaran yang sempurna  tersebut.  Seseorang tidak akan dapat mengetahui kebenaran dengan sesungguhnya sebelum kebenaran itu diajarkan kepada orang itu oleh Roh Kudus.Seperti yang dijelaskan oleh Yesus tentang penolong itu akan datang untuk mengajar dan mengingatkan akan apa yang telah diajarkan oleh Yesus.  Dalam Yohanes 14:16-17a “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran.”  Roh Kudus sendiri dikatakan sebagai Roh Kebenaran, maka Ia akan membawa orang yang telah percaya kepada Kebenaran yang benar.  Bukan hanya dapat menyatakan kebenaran tersebut untuk manusia tetapi  Roh Kudus juga turut membenarkan orang-orang yang sudah percaya kepada Kristus. 
Roh Suci membenarkan, yaitu Ia yang melanjutkan, mengenakan pembenaran kepada orang percaya, hingga orang yang dibenarkan merasakan kegirangan.Maksudnya disini adalah ketika Roh Kudus ada di dalam diri orang percaya maka dia sudah dibenarkan dan akan menjadi lebih mudah untuk mengenal kebenaran itu.
B.             Memberi Kuasa Untuk Bersaksi
Roh Kudus adalah pribadi dari Allah Tritunggal. Roh Kudus juga merupakan urapan.[2]  Seperti dalam amanat agung yang disampaikan oleh Yesus bahwa Bapa, Anak(Yesus), dan Roh Kudus adalah sama hakekatnya.  Seperti halnya dalam perjanjian lama Allah memberi kuasa untuk para nabi untuk memberitakan akan firman Tuhan kepada bangsa-bangsa, seperti itu jugalah kuasa yang diberikan oleh Allah lewat Roh Kudus untuk memberikan kuasa bagi orang percaya untuk dapat bersaksi tentang Yesus. 
Roh Kudus menolong orang yang percaya supaya ia dengan penuh kuasa dapat meneruskan kepada orang-orang lain kebenaran yang diajarkan oleh Roh Kudus kepadanya (I Korintus 2:1-5; I Tesalonika 1:5; Kisah Para Rasul 1:8).Bahwa setiap orang percaya kepada Yesus akan diberikan kuasa oleh Roh Kudus untuk dapat bersaksi kepada orang lain tentang Yesus.  Karena dalam pemberitaan Injil ataupun saat bersaksi sebenarnya orang tersebut sedang berperang dengan kuasa roh-roh yang lain.  Sebagai manusia yang terbatas maka tidak akan dapat menerobos masuk kedalam orang-orang yang seperti itu.  Perlu adanya oknum atau pribadi yang mampu untuk mengalahkan kuasa-kuasa itu.  Dan Roh Kudus adalah yang bisa untuk mematahkan kuas roh-roh yang jahat.  Semua orang selalu memerlukan pertolongan Roh Kudus. 
Yang menyebabkan gagalnya pekerjaan Injil dan pekerja Kristen ialah karena mereka mencoba mengajarkan Firman Tuhan “Dengan perkataan budi yang membujuk orang”, yaitu dengan ilmu-ilmu manusiadan dunia ini.  Padahal manusia perlu “keterangan dan kuasa Roh Kudus.”Tidak akan ada yang dapat bersaksi dengan benar jika Roh Kudus tidak memberitahu akan apa yang harus dikatakan kepada seseorang.  Hanya sebuah kekuatan diri sendiri dan pengetahuan serta keahlian untuk mempengaruhi orang lain yang tertinggal.  Ada orang-orang yang dapat berbicara dengan baik sehingga apa yang dikatakannya diterima oleh orang lain.  Namun berbeda jika orang tersebut disertai dengan kuasa Roh Kudus maka apa yang dikatakannya mempunyai kuasa yang dapat membangun serta menyadarkan orang-orang berdosa.
C.             Buah-buah Roh atau Karakter Kristus
Di dalam galatia 5, Rasul Paulus membedakan antara ketujuh belas perbuatan daging dengan kesembilan buah Roh Kudus. Di bawah daftar dari ketujuh belas perbuatan daging ( yang jika dipraktikkan akan menghalangi kita untuk dapat mewarisi kerajaan Allah ) terdapat kesembilan buah Roh di dalam Galatia 5 : 22-23.” Tetapi buah Roh ialah: Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan ( atau iman ), kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Kesembilan buah Roh ini, yang merupakan aspek-aspek dari karakter Allah yang harus dibentuk di dalam hidup kita, dibedakan dengan kesembilan karunia Roh Kudus. 
CARA BUAH-BUAH ROH DIKEMBANGKAN DI DALAM HIDUP KITA
Menurut perkataan Tuhan di dalam Yohanes 15:1-4, buah-buah Roh itu dikembangkan melalui empat langkah berikut[3] :
1)      Melalui pengeratan/pemangkasan ( atau pemurnian ) oleh Bapa Surgawi. Ini dilakukan melalui ujian-ujian yang berat dan pengalaman-pengalaman yang pahit (Yoh 15:2)
2)      Dengan dibersihkan seluruhnya oleh ketaatan akan Firman. Kristus berkata di dalam Yohanes 15:3, “ Kamu memang sudah bersih karena Firman yang telah kukatakan kepadamu ”
3)      Dengan tinggal di dalam Kristus, yang dilaksanakan dengan cara memelihara perintah-perintah-Nya. Tuhan menginstruksikan kepada kita di dalam Yohanes 15:10, “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. ”
4)      Dengan Kristus tinggal di dalam kita. Ini terjadi ketika Firman-Nya tinggal di dalam kita ( Yoh 15:4; 15:10 ).

Sembilan Buah Roh dikembangkan dalam suatu keadaan yang bertentangan.
Faktor lain yang sangat penting mengenai perkembangan buah-buah Roh di dalam hidup kita adalah : buah-buah Roh dikembangkan dalam keadaan yang berlawanan dengan buah-buah Roh tersebut dan melalui kuasa-kuasa yang menentang. Buah-buah Roh benar-benar hanya dapat mencapai kesempurnaan dalam keadaan yang bertentangan dengan buah-buah Roh tersebut.
v   Kasih - dikembangkan dengan jalan mengasihi mereka yang membenci dan yang dengan jahat memperalat kita.
v   Sukacita dikembangkan oleh orang-orang yang melewati lembah baka (dukacita) dan membuatnya menjadi suatu mata air sukacita, dimana orang lain dapat menimba kekuatan, karena sukacita dari Tuhan menjadi kekuatan mereka.
v   Damai mencapai kedewasaan tatkala orang Kristen ditempatkan di dalam situasi-situasi yang kacau serta membingungkan dan ia mengizinkan damai sejahtera yang bagaikan sungai mengalir dari jiwanya.
v   Kesabaran ­­Hanya dapat mencapai kedewasaan melalui ujian-ujian yang memakan waktu yang lama dan sulit, dimana kekuatan manusia tidak bisa menanggungnya dan penderitaan ilahi yang dimanifestasikan oleh Kristus di kalvari mengalir melalui dan dari Roh kita.
v   Kemurahan ­Bercahaya di tengah-tengah kekasaran dan tidak adanya sopan santun, di tengah-tengah orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan bersyukur.
v   Kebaikan Memanifestasikan buahnya diantara orang-orang jahat yang tindakan-tindakannya kejam dan memperdayakan.
v   Kesetiaan Terlihat sisi yang terbaiknya ketika dihadapkan dengan kegagalan dan pengkhianatan dari mereka yang paling kita percayai.
v   Kelenahlembutan Mencapai kepenuhannya dan membuat semua orang terheran-heran, ketika diperhadapkan dengan kemarahan, tetapi tidak menunjukkan perlawanan.
v   Penguasaan Diri Merupakan kehendak diri sendiri yang dipraktikkan dengan luar biasa oleh seseorang yang berada di antara mereka yang memiliki hawa nafsu, keinginan yang besar, dan hasrat yang tidak terkendali, tetapi ia mampu memanifestasikan disiplin diri yang indah.

Buah-buah Roh adalah hasil dari penyerahan kepada Allah dan pimpinan Roh Kudus.  Roh Kudus mengarahkan watak maupun merespons keinginan manusia untuk bebas dari sejumlah kewajiban dan larangan, sikap maupun perbuatan manusia, tingkah laku maupun kepercayaan manusia.Sehingga yang dilakukan Roh Kudus melepaskan apa yang telah ada dari dunia dari manusia itu sendiri.  Kemudian Roh akan memperbaharui watak manusia yang telah menyerahkan dirinya kepada-Nya. 
Roh kudus akan menuntun agar manusia dapat berlaku dan bertindak sesuai Roh Kudus.  Kemudian yang terjadi adalah manusia tersebut akan melakukan buah-buah Roh, kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.  Kasih adalah sebuah ungkapan dari pribadi yang satu kepada pribadi yang lain.  Mempunyai kasih yang seperti Tuhan Yesus miliki adalah tujuan dari Roh Kudus membimbing orang percaya untuk dapat melakukannya.  William Barclay berkata, “Agape adalah semangat jiwa yang tak pernah mencari apa pun, tetapi memberi kebaikan untuk orang lain.” Agape adalah sikap atau perbuatan yang dilakukan dan tidak mencari keuntungan atau pun timbal balik dari si penerima. 
Kasih harus dilakukan, maksudnya berupa tindakan nyata dan bukan hanya sebuah perasaan.  Roh Kudus yang membimbing orang untuk bertindak melakukan kasih.  Roh Kudus memberikan dorongan kepada manusia untuk berbuat kasih tanpa ada upah.  Sukacita yang dimaksud disini bukan hanya diwaktu keadaan yang baik saja, tetapi yang kurang baik sekalipun.  Roh Kudus membuat hal tersebut terjadi.  Menebar senyum dimasa sulit adalah hal yang mustahil tetapi itulah peran Roh Kudus yang membuat seseorang itu mampu tersenyum diwaktu kesusahan. 
Alexander Maclaren menulis, “Sukacita bertumbuh dalam keadaan yang sulit, seperti semak mawar kecil yang tumbuh berkembang dan menebarkan aroma wangi bunganya di air terjun yang besar. Maksudnya adalah, sukacita tidak bertumbuh atau tidak berarti diwaktu yang baik tetapi diwaktu yang kurang baik dan dari situlah maka sukacita ada.  Sukacita berasal dari dalam diri, yaitu keadaan hati yang telah dipenuhi oleh Roh Kudus yang akan memampukan manusia untuk dapat bersukacita.  Yang ketiga adalah damai sejahtera.  Tidak akan ada orang yang dapat merasakan damai sejahtera yang sejati tanpa adanya Roh Kudus. 
Roh Kuduslah yang mengakibatkan seseorang mempunyai Roh Kudus dalam hatinya.  Pertama-tama damai sejahtera akan di dapatkan jika hidupnya berdamai dengan Allah. Dan yang kedua berdamai dengan diri sendiri. Hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus adalah hal yang dapat mendamaikan manusia dengan Allah.  Sehingga dari damai sejahtera itu timbul kesabaran.  Banyak orang yang tidak dapat mengontrol emosinya dan cenderung untuk melampiaskan amarah mereka.  Kesabaran sangat diperlukan untuk hidup bergaul dengan lingkungan sekitar.  Kesabaran memberikan antisipasi dan pengharapan yang menenangkan. Ketika seseorang hidup dengan peran Roh Kudus dalam hidup seseorang tersebut lebih besar dari pada egonya maka yang dihasilkan adalah buah-buah Roh. 
Kemurahan di dapat ketika seseorang merasakan kesulitan dimana seseorang itu dapat bertindak marah namun itu tidak dilakukan.  Kebaikan adalah suatu hal yang dapat dilakukan dan hasilnya itu terlihat.  Kebaikan menyangkut pribadi dengan pribadi.  Banyak orang yang tidak dapat bertindak baik walaupun mempunyai kesempatan untuk berbuat kebaikan.  Hal ini dimungkinkan karena Roh Kudus yang menguasai orang tersebut.  Kebaikan harus dinyatakan dlam hati sebelum dapat memberikan nada yang tepat dan tindakan yang ekspresif.
Di dalam menjalin hubungan dengan orang lain atau pun mengabdi dengan siapa pun perlu adanya kesetiaan.  Kesetiaan adalah suatu sikap yang dapat dipercaya.  Kesetiaan berbicara tentang ketahanan, keteguhan untuk mencapai tujuan, khususnya ketika berada dalam bahaya dan bencana.
Kesetiaan memerlukan sikap bukan hanya sebuah perkataan.  Lemah lembut adalah sikap yang kuat tetapi lembut.   Dan yang terakhir adalah tentang penguasaan diri.  Semua orang cenderung untuk berbuat semaunya.  Namun karena Roh Kudus yang memberi dorongan agar dapat mengendalikan maka hasilnya orang yang dikendalikan Roh Kudus dapat mengendalikan dirinya dalam segala hal.

2.             PERANAN ROH KUDUS BAGI GEREJA

A.           Membangun jemaat
Roh kudus membangun jemaat yang ada bukan hanya dengan karunia Roh yang ada tetapi oleh kuasa-Nya yang bekerja lewat pribadi masing-masing.Roh Kudus masih membangun Tubuh Kristus dengan cara memanggil suatu kaum bagi nama Kristus.  Maksud Allah bagi jemaat bukannya untuk mengkristenkan segenap dunnia, melainkan untuk mengabarkan Injil kepada segenap dunia serta memilih satu kaum bagi Kristus yang menjadi milik-Nya, yang terdiri dari segala bangsa di dunia ini.  Sesudah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus menerangkan kepada murid-murid-Nya bahwa Allah tidak bermaksud supaya mereka mengetahui segala masa dan ketika yang ditetapkan olehNya, melainkan supaya mereka mengerjakan tugas yang diserahkan kepada mereka, yaitu bersaksi.  Dan kalau mereka hendak melakukan tugas itu dengan sebaik-baiknya hasruslah mereka menantikan Roh Kudus yang telah dijanjikan.
Roh Kudus memberikan kekuatan untuk jemaat dapat membangun diri mereka agar lebih bertumbuh.  Roh Kudus juga befungsi sebagai penolong mereka untuk dapat melakukan semua perkara yang Tuhan telah perintahkan kepada mereka. 
Lewat Roh Kudus juga dalam jemaat mula-mula berkembang karunia Roh yang berguna untuk membangun jemaat.  Saling membangun dengan karunia yang mereka miliki.  Setiap jemaat yang ada tidak akan ada yang dapat membangun satu sama lain tanpa Roh Kudus yang memberikan pembangunan tersebut.  Jemaat atau gereja adalah satu organisme yang saling berkaitan, dari situlah maka saling membangun dapat terjadi.  Tidak adanya Roh Kudus dalam hidup jemaat sangat berpengaruh dalam kehidiupan jemaat tersebut.  Roh Kudus memberikan kesatuan dalam tubuh Kristus.

B.            Pertumbuhan gereja
Roh Kudus mempunyai peran penting yaitu untuk memberikan pertumbuhan kepada gereja.  Tidak akan ada gereja yang bertumbuh tanpa ada Roh Kudus di dalamnya.  Karunia Roh dalam jemaat atau gereja berperan penting sebagai dasar pertumbuhan gereja.  Tidak akan ada gereja yang bertumbuh tanpa adanya karunia Roh yang menyertainya.  Pertumbuhan gereja diawali dengan pemanfaatan karunia Roh di dalam jemaat.  Yang terpenting bagi pertumbuhan gereja adalah karunia Roh pemberita Injil.  Tidak akan ada gereja yang bertumbuh secara kasat mata tanpa adanya pertumbuhan jemaat baru. 
Pemberita Injil mempunyai peran penting dalam menumbuhkan gereja lewat jiwa-jiwa baru.  Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa karunia yang lain turut serta membawa pertumbuhan.  Peran karunia Roh Kudus dalam pertumbuhan gereja mutlak diperlukan.  Karunia-karunia Roh di dalam jemaat banyak bentuknya.  Tercatat ada dua puluh tujuh bentuk karunia Roh.  Nubuat, pelayanan, mengajar, memberi nasihat, membagi-bagikan, kepempinan, kemurahan, hikmat, pengetahuan iman, penyembuhan, mujizat, membedakan bermacam-macam roh, bahasa Roh.  Menafsirkan bahasa Roh, rasul, pertolongan, kepengurusan, pemberita Injil, gembala, hidup lajang, hidup miskin secara sukarela, mati sebagai martir, memberi tumpangan, misionaris, doa syafaat, pelepasan. Karunia-karunia Roh ini berhubungan langsung dengan hidup jemaat. 
Adanya karunia Roh yang ada pada jemaat akan membuat jemaat semakin bertumbuh baik dalam iman maupun kapasitas hidup.  Gereja tanpa adanya karunia Roh akan menjadi gereja yang suam-suam kuku.  Gereja yang tidak mempunyai pengaruh dan sebagai pembawa kabar baik dari Allah.  Jemaat Korintus sebagai contoh adanya karunia Roh dalam jemaat walaupun kesaksiannya tidak baik sebab adanya perpecahan.  Karunia Roh yang berbeda-beda ini saling melengkapi dalam satu anggota tubuh Kristus.  Karunia-karunia Roh yang disebutkan diatas adalah saling melengkapi dan mencakup semua segi dalam jemaat.  Gembala sampai pemberita Injil adalah karunia yang diberikan dari pemimpin gereja sampai jemaat awam. 
Gereja membutuhkan pemimpin yang dapat memimpin jemaat dengan baik.  Gembala adalah pemimpin dalam gereja, dan kehadiran gembala mutlak diperlukan di dalam sebuah gereja.  Karunia gembala adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menerima tanggung jawab pribadi jangka panjang demi kesejahteraan rohani sekelompok orang percaya. Pentingnya karunia gembala adalah untuk menjadi pemimpin untuk memimpin jemaat yang ada menemukan dan mengembangkan karunia yang diberikan Tuhan kepada setiap jemaat.  Selebihnya dari karunia gembala dapat ditemukan dalam jemaat biasa.




3.             PERANAN ROH KUDUS BAGI ORANG PERCAYA DAN GEREJA SERTA RELEFANSINYA DENGAN MASA KINI

Roh Kudus juga memiliki pelayanan menginsafkan.[4] Roh Kudus adalah seorang yang menginsafkan, yang menyadarkan orang akan dosa. Ketika kita melakukan sesuatu yang tidak berkenan dengan Tuhan, kita merasa begitu bersalah dan sedih. Ini adalah karya Roh Kudus di dalam kehidupan kita. Roh kuduslah yang menyadarkan Paulus akan gaya hidupnya yang begitu berlawanan dengan jalan-jalan Allah (Kis 9:5). Inilah pelayanan Roh Kudus, Ia tidak hanya menyadarkan orang kudus akan dosa mereka, tetapi juga meyakinkan orang-orang berdosa akan dosa, kebenaran, dan penghakiman. Perkataan terakhir dari Kristus ketika Ia berada di atas bumi begitu banyak menyingkapkan tentang pelayanan Roh Kudus. Salah satu kualitas yang paling menakjubkan dari Tuhan adalah fakta bahwa banyak dari pengajaran-pengajaran-Nya yang terbaik diberikan ketika Ia sedang menuju kayu salib. Ini berbicara tentang isi karakter-Nya. Betapa Ia memiliki roh yang begitu terkendali meskipun Ia sedang menuju kepada kematian di kalvari. Ingatlah bahwa pesan-pesan ini tidak diberikan dalam suasana kelas yang enak dan nyaman melainkan tatkala Ia berjalan dari perjamuan terakhir di ruang atas menuju taman Getsemani.
Roh Kudus adalah satu pribadi yang memimpin semua orang yang telah percaya kepada Yesus.  Peran Roh Kudus sangat sentral dalam diri orang percaya maupun gereja.  Telah dibahas di bab-bab sebelumnya peran Roh Kudus di dalam orang percaya dan gereja.  Dalam masa sekarang pertumbuhan gereja bisa dikatakan berkembang pesat.  Berkembangnya gereja kharismatik membuat pertumbuhan gereja semakin subur.  Dengan berkembangnya doktrin karunia-karunia Roh dan hidup dipimpin Roh membuat jemaat di gereja ini semangat untuk melayani dann memberitakan Injil.  Tidak dipungkiri bahwa peran Roh Kudus dalam hidup mereka sebagai alasan mereka untuk bertumbuh. 
Gereja-gereja Kharismatik yang mengedepankan karunia Roh terutama karunia bahasa Roh sangat bersemangat dalam mengembangkan pertumbuhan gereja.  Namun tidak bisa dikatakan bahwa karunia Roh hanya ada pada gereja kharismatik.  Dalam gereja-gereja tradisional lebih mengepankan tentang pengajaran.  Perbedaan ini seharusnya tidak membuat terpecahnya dan membuat pembedaan dalam pengajaran dan yang lebih rohani siapa.  Seharusnya mereka-mereka yang menyebut dirinya Kristen baik dari orang Kharismatik maupun yang tradisional dapat menjaga kesatuan dalam gereja.
Wadah yang dapat digunakan dalam hal ini adalah oikumene, yaitu persekutuan antar gereja. Dalam wadah ini kesatuan dan saling menerima dapat terjadi. Yang tersisa hanya nama saja dan cara ibadah yang berbeda. Karena dari hal ini tidak ada pengaruh dari Kharismatik maupun yang gereja tradisional yang terpenting adalah kesatua untuk kemajuan tubuh Kristus di berbagai tempat.


























BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN          :

Banyaknya denominasi gereja yang berkembang sekarang terkadang membuat perbedaan antar individu maupun dari organisasi gereja tersebut.  Tapi Firman Tuhan dari dulu sampai sekarang tetap sama, yaitu adanya kesatuan yang harmonis sebagai tubuh Kristus. Roh Kudus adalah oknum yang memampukan orang percaya untuk melakukan kesatua dan menjadikan kehidupan kerohanian lebih berkualitas. Dalam perkembangannya sekarang banyaknya gereja-gereja Kharismatik membuat karunia-karunia Roh, terlebih karunia berbahasa Roh sebagai ukuran kerohanian seseorang. 
Tapi yang terpenting disini bukanlah seberapa kuat dia untuk berbahasa rohani pada waktu ibadah tetapi bagaimana dalam kehidupannya sehari-hari. Ukuran orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang mampu memberikan dampak pada sekitarnya, menjadi orang yang disegani dan berpengaruh dalam masyarakat. Bahasa Roh dalam ibadah hanya sebatas ukuran emosi saja dan tidak dapat diukur kebenarannya. Hanya kehidupan secara nyata seseorang yang dapat dijadikan ukuran untuk dapat dikategorikan dipenuhi Roh Kudus atau tidak.















DAFTAR PUSTAKA

Brill, J. W.  Dasar  Yang Teguh. Bandung:Kalam Hidup, t.th.
Soedarma, R.Ikhtisar Dogmatika. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2002.
Drescher, Jhon M..Melakukan Buah Roh. Jakarta:BPK GUnung Mulia,2008.
Wagner, Peter. Manfaat Karunia Roh. Malang:Gandum Mas, 2000.
Brian J.Bailey. Roh Kudus Sang Penghibur,  jakarta:voice of hope, 2015.



[1] .Brian J.Balley, ROH KUDUS sang penghibur, hal 34.
[2] .Bidat, hal 38
[3].Bidat, hal 208
[4]Bidat,hal 40

Jumat, 07 April 2017

Never Give Up



MAKALAH
AMANAT AGUNG DAN APLIKASINYA BAGI JEMAAT MASA KINI

BAB I
PENDAHULUAN

A.              Latar Belakang
            Amanat Agung itu demikian pentingnya, bukan saja karena merupakan misi utama semua gereja, tetapi juga karena gereja-gereja baru akan terbentuk apabila ada orang-orang yang taat melaksanakan Amanat Agung tersebut. Tanpa Amanat Agung tidak akan ada gereja-gereja lokal. Pelaksanaan Amanat Agung menghasilkan gereja-gereja lokal.Gereja adalah wakil dari Kerajaan Allah di dunia ini dan diperintahkan untuk membawa berita Injil ke semua manusia di bumi. Jika kita melihat prioritas dari program-program, berbagai aktivitas sebuah gereja sekarang ini, kita mungkin bertanya-tanya apakah kita telah lupa atau bingung akan misi kita sebagai orang-orang percaya. Kita sibuk, tetapi sibuk mengerjakan apa? Berapa banyak program, pertemuan, dan aktivitas kita yang benar-benar menghasilkan jiwa-jiwa baru? Jika kita tergugah untuk memenuhi Amanat Agung Kristus, maka kita harus menjadi gereja yang misioner.

            Sebuah gereja yang misioner adalah gereja yang melaksanakan misi. Kata “misi” atau “mission (Inggris)” berasal dari kata Latin “missio” yang diangkat dari kata “mittere”, merupakan terjemahan dari kata Yunani “apostello”, yang artinya “mengirim” atau “mengutus”. Secara umum kata misi bisa merujuk pada pengutusan seseorang dengan tujuan khusus, misalnya misi kesenian, misi budaya, dan lain-lain. Dalam konteks kekristenan, misi dipahami dalam arti pengiriman atau pengutusan gereja ke dalam dunia, khususnya melalui sekelompok pekerja yang disebut misionaris untuk menjangkau orang-orang kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Dalam perkembangannya, pengertian misi pada saat ini mencakup makna yang cukup luas, yaitu: (1) Pengiriman atau pengutusan misionari ke daerah tertentu; (2) Aktivitas yang dijalankan para misionari; (3) Wilayah geografis di mana para misonaris bekerja; (4) Lembaga yang mengutus para misionaris; (5) ladang misi atau lapangan misi yaitu dunia non Kristen; (6) Pusat pengutusan misionaris; dan (7) Rangkaian pelayanan yang secara khusus dimaksudkan untuk menyebarkan agama Kristen dan pendirin jemaat baru.Istilah “mission” dan “missions” tidaklah sama. Para ahli misiologi membedakan kedua istilah tersebut. “Mission” merupakan suatu keseluruhan yang Allah tugaskan kepada gereja, baik itu bersifat pelayanan kepada Allah, anggota gereja, maupun orang yang belum percaya kepada Kristus. Sedangkan “missions” merupakan partisipasi gereja dalam tugas peberitaan Injil yang Allah percayakan pada Gerejanya.




BAB II
PEMBAHASAN


A. PRINSIP-PRINSIP DASAR DALAM MELAKSANAKAN AMANAT AGUNG

Karena itu, ada tujuh hal yang perlu menjadi perhatian gereja dalam melaksanakan Amanat Agung Kristus berdasarkan empat bagian ayat-ayat Alktab diatas (Matius 28;18-20; Markus 16:15-20; Lukas 24:47-51; Kisah Para Rasul 1:6-11), yaitu:

1. Penginjilan Sebagai Ujung Tombak (Markus 16:15)
            Penginjilan adalah ujung tombak pelaksanaan Amanat Agung, atau dengan kata lain, pemberitaan Injil merupakan tahap pertama dala pekerjaan misi. Penginjilan merupakan suatu proklamasi Injil Yesus Kristus yang berkuasa, dalam kuasa Roh Kudus dengan cara yang dapat dimengerti agar manusia bertobat kepada Tuhan Yesus Kristus. Karena itu, gereja harus meletakkan tugas menyampaikan Injil kepada semua orang di dunia dalam tempat yang pertama. Khotbah, pengajaran, doa, program, rencana, pelatihan dan lainnya, semuanya harus dipusatkan disekitar tujuan ini. Para pemimpin gereja seharusnya menjadi pemobilisir dari anggota tubuh Kristus, memberi inspirasi dan latihan bagi orang-orang percaya untuk bersaksi dan memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus. Tetapi, kesalahpahaman lain tentang Amanat Agung yang kadangkala muncul adalah konsep bahwa pekerjaan misi merupakan tugas khusus untuk murid-murid Tuhan Yesus (kaum rohaniwan seperti pendeta atau penginjil, dan bukan untuk jemaat awam). Beberapa bahkan berpendapat bahwa penginjilan merupakan karunia khusus yang tidak harus dilakukan oleh setiap orang percaya. Pandangan ini tentu saja tidak sesuai dengan esensi Amanat Agung. Amanat Agung ditujukan bagi “semua bangsa” dan disertai janji “sampai akhir zaman”. Kedua fakta ini tidak mungkin hanya dimaksudkan untuk 11 murid Tuhan saja. Dalam kitab Kisah Para Rasul kita menemukan pola Perjanjian Baru yaitu : setiap orang, di mana saja, setiap ada kesempatan, setiap hari menyampaikan kesaksian dan memenangkan jiwa. Jadi penginjilan menjadi bagian alami dari kehidupan setiap hari.

2. Injil adalah Kabar Baik untuk Semua Bangsa (Matius 28:19: Markus 16:15)

            Injil adalah kabar baik untuk semua orang. Kata “Injil” merupakan Arabisasi untuk kata Yunani - euaggelion" yang artinya adalah kabar baik (good news). Kekristenan menggunakan kata “eunggelion” dengan arti “berita sukacita atau kabar baik dari Allah tentang Yesus Kristus dan karya penebusanNya bagi dunia” (Roma 1:16; 1 Korintus:15:1-4). 
Dosa itu bersifat universal karena itu Injil yang adalah kabar baik bersifat universal. Tidak ada seorangpun manusia yang pernah hidup di bumi ini bebas dari dosa. Dosa telah menyebabkan manusia mengalami kerusakan total (total depravity) dan ketidakmampuan total (total inability). Kerusakan total berarti: (1) dosa telah menjangkau setiap aspek natur dan kemampuan manusia: termasuk rasio, hati nurani, kehendak, hati, emosinya dan keberadaannya secara menyeluruh (2 Korintus 4:4, 1Timotius 4:2; Roma 1:28; Efesus 4:18; Titus 1:15); dan (2) secara natur, tidak ada sesuatu dalam diri manusia yang membuatnya layak untuk berhadapan dengan Allah yang benar (Roma 3:10-12). Sedangkan ketidakmampuan total berarti: (1) Orang yang belum lahir baru tidak mampu melakukan, mengatakan, atau memikirkan hal yang sungguh-sungguh diperkenan Allah, yang sungguh-sungguh menggenapi hukum Allah; (2) tanpa karya khusus dari Roh Kudus, orang yang belum lahir baru tidak mampu mengubah arah hidupnya yang mendasar, dari dosa mengasihi diri sendiri menjadi kasih kepada Allah. Perlu ditegaskan bahwa ketidakmampuan total bukanlah berarti orang yang belum lahir baru sesuai naturnya tidak mampu melakukan apa yang baik dalam pengertian apapun. Keselamatan adalah untuk dunia ini dengan demikian keselamatan itu bersifat universal (Yohanes 3:16; 1 Yohanes 2:2) atau dengan kata lain, jangkauan penebusan bersifat tidak terbatas (unlimited atonement). Karena itu, perintah untuk memberitakan Injil dalam amanat Kristus adalah “pergi ke seluruh dunia” dan “menjadi semua bangsa muridNya”. Ajaran tentang penebusan tak terbatas (unlimited atonement) memberikan kepada para pemberita Injil jaminan dan kebebasan dalam menyampaikan berita, sehingga ia dapat dengan tulus percaya bahwa ia memiliki berita yang dirancang dan tepat menjawab kebutuhan manusia yang datang mendengarkan perkataannya. (Matius 28:19; Markus 16:15-16).Tuhan telah menyediakan keselamatan untuk semua orang dan Roh Kudus meyakinkan manusia agar menerima keselamatan. Walaupun demikian, Alkitab juga mengajarkan bahwa tidak semua orang akan diselamatkan. Hal ini merupakan misteri Allah dalam pemilihan, dan terjadi karena penolakan dan ketidakpercayaan kepada Kristus (Yohanes 5:10; 2 Korintus 5:18-20; Titus 2:11).

3. Tanda Awal yang Kelihatan dari Penerimaan Injil dan Pertobatan adalah Baptisan Air Dalam Nama Allah Tritunggal ( Matius 28:19 )

            Baptisan air oleh sebagian orang telah dianggap sebagai anugerah yang menyelamatkan atau syarat keselamatan. Alkitab tidak mengajarkan demikian, sebaliknya Alkitab menunjukkan bahwa baptisan air bukanlah anugerah yang menyelamatkan atau pun syarat keselamatan (1 Korintus 1:17). Baptisan air itu penting tetapi bukanlah syarat keselamatan. Makna Baptisan air adalah: (1) Baptisan air adalah tanda (kepada) pertobatan (Matius 3:11); (2) Tanda ketataan kepada perintah Tuhan, bahwa seseorang telah lahir baru atau telah diselamatkan (Matius 28:18,19); (3) orang percaya yang telah lahir baru (atau dibaptis Roh Kudus), telah bersatu dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitanNya, dan secara simbolik persatuan tersebut ditunjukkan melalui peristiwa baptisan air (Roma 6). (4) Baptisan air merupakan upacara (inisiasi) masuk kedalam keanggotaan tubuh Kristus yang kelihatan, disebut keanggotaan gereja lokal. (5) Baptisan air adalah kesaksian bahwa orang tersebut telah dimeteraikan dan menerima hidup baru dan mengambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Kristus (Roma 6:3-6). (6) Baptisan juga menandakan bahwa seseorang menjadi pengikut atau murid Kristus yang sah (Matius 28:19,20).Baptisan air dilakukan melibatkan keputusan dan pilihan manusia. Karena itu, berdasarkan pengertian ini, maka baptisan air dilakukan setelah lahir baru (diselamatkan) yaitu setelah percaya dan bertobat (Markus 16:15; Kisah Para Rasul 2:4,33,37-41). Untuk dibaptis air seseorang harus menerima Injil (Matius 28:19), bertobat (Kisah Para Rasul 2:38), dan memiliki iman (Kisah Para Rasul 2:41; 8:12; 18:12; Galatia 3:26,27);Jadi, dasar atau fondasi dari legal (sah) atau tidaknya suatu baptisan air adalah kedua hal berikut ini, dan jika kedua syarat ini telah dipenuhi, maka tidak perlu ada pengulangan baptisan, yaitu: (1) Yang akan menerima baptisan air itu adalah orang yang sudah percaya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan penebus, yaitu mereka yang sudah dilahirbarukan oleh Roh Kudus, dan masuk dalam “kovenan” anugerah. (2) Baptisan air, harus dilakukan dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yang menjadikan upacara itu kudus.
4. Fokus pada pemuridan: Sasaran Amanat Agung adalah menjadikan murid-murid Kristus (Matius 28:19-20)
            Banyak yang memahami inti Amanat Agung terletak hanya pada penginjilan (Matius 28:19-20). Pemahaman tersebut didasarkan pada penekanan kata “pergilah” yang diletakkan di awal kalimat yang diikuti langkah selanjutnya yaitu pemuridan, baptisan dan pengajaran. Tetapi jika diperhatikan menurut struktur tata bahasa Yunani ayat 19-20, maka inti Amanat Agung justru terletak pada pemuridan. Hal hal ini didasarkan pada kata imperatif untuk kata kerja “jadikanlah murid” yang diikuti oleh tiga partisipel (anak kalimat), yaitu “pergilah”, “baptiskanlah” dan “ajarkanlah”.Penjelasan lebih lanjut, mari kita memperhatikan bahwa dalam bahasa Yunani ayat tersebut menyebutkan empat kata kerja, yaitu : “pergilah (poreuthentes), jadikanlah murid (mathĂȘteusate), baptiskanlah (baptizontes), dan ajarkanlah (didaskontes)”. Kata “pergilah, baptiskanlah, ajarkanlah” adalah kata kerja partisip atau bentuk kata kerja bantu. Kata “jadikanlah semua bangsa muridKu” adalah kata kerja imperatif atau kata kerja bentuk perintah. Jadi fokus Amanat Agung adalah “menjadikan semua orang/bangsa murid Kristus. Kata murid dalam Alkitab Perjanjian Baru tercatat 269 kali, sedangkan kata Kristen dicatat hanya 3 kali, dan kata orang percaya hanya 2 kali. Fakta ini memberitahukan kita bahwa betapa pentingnya panggilan Tuhan Yesus bagi orang yang sudah percaya kepadaNya, supaya menjadi murid-Nya yang sejati.
5. Metode Pemuridan adalah Pengajaran (Doktrinal) dan Tindakan Melakukan (Praktikal)
            Rasul Paulus menasihati Titus demikian “Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat” (Titus 2:1). Selanjutnya Rasul Paulus menghubungkannya ajarah sehat dengan praktek kehidupan sehari-hari (Titus 2:1-14). Ajaran sehat adalah doktrin atau didaskalia. Kata ini berkaitan dengan apa yang diajarkan. Ajaran sehat akan memelihara orang percaya agar tetap sehat dan terhindar dari kekeliruan. Doktrin yang sehat menghasilkan pertumbuhan dan paktek kehidupan kudus dan berkenan kepada Allah.Kata doktrin berarti sesuatu yang diajarkan, pengajaran, instruksi; prinsip-prinsip agama yang diajarkan; atau lebih harfiah doktrin berarti mengajarkan yang dasar. Sehingga "doktrin" secara konseptual adalah hal-hal yang diajarkan. Kata doktrin ini digunakan sebanyak 56 kali di dalam Authorised Version (Alkitab bahasa Inggris). Salah satunya terdapat di dalam Kisah Para Rasul 2:42, di mana dikatakan bahwa para petobat gereja yang mula-mula bertekun dalam pengajaran (doktrin) para rasul. Dari tersebut, maka doktrin dapat didefinisikan sebagai pengajaran-pengajaran dasar yang diajarkan. Dalam pengertian yang luas doktrin mencakup semua kebenaran firman Tuhan yang diajarkan. Doktin itu sendiri bersumber dari Alkitab yang adalah Firman Allah. Sehingga untuk pemakaian Kristen, doktrin dapat di definisikan sebagai pengajaran-pengajaran dasar Kristen yang diajarkan yang bersumber dari Alkitab.
6. Dilengkapi dengan Kuasa Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:5-8) 
            Pentakosta menandai dimulainya gereja sebagai suatu tubuh yang berfungsi melalui pencurahan Roh Kudus. Sebelum naik ke surga, Kristus berjanji tidak lama lagi murid-muridNya akan dibaptis dengan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:5). Peristiwa “pencurahan Roh Kudus” pada hari Pentakosta tersebut indentik dengan “baptisan Roh Kudus” yang dijanjikan oleh Kristus kepada murid-muridNya. Petrus menyebutnya sebagai penggenapan nubuat Nabi Yoel (Kisah Para Rasul 2:16). Peristiwa pentakosta ini menandai ditempatkannya orang percaya di dalam Tubuh Kristus (1 Korintus 12:13; Efesus 1:22,23). Baptisan Roh Kudus pada hari Pentakosta yang terjadi hanya satu kali dan tidak terulang lagi. Untuk memahami arti baptisan Roh Kudus, kita dapat memperhatikan kata-kata Paulus dalam 1 Korintus 12:13, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh”. Kalimat dalam 1 Korintus 12:13 ini menggunakan bentuk aorist tense (past principle tense), yaitu menunjuk kepada suatu peristiwa yang sudah lewat, yang terjadi hanya satu kali dan tidak akan pernah terulang lagi. Ini berarti bahwa baptisan Roh Kudus itu hanya terjadi satu kali, yaitu pada hari Pentakosta di Yerusalem.
 7. Mencakup pekabaran Injil dan pelayanan sosial
            Ada tiga pandangan umum tentang misi. Pandangan tradisional, melihat misi identik (dan terbatas pada) penginjilan. Pandangan liberal, melihat misi sebagai pelayanan sosial dan menganggap memberitakan Injil tidak lebih penting daripada pelayanan sosial. Pangangan Injili, yang dipelopori oleh John Stott. Ia berpendapat bahwa misi Alkitabiah mencakup penginjilan dan pelayanan, tetapi penginjilan tetap menjadi inti misi. Murid-murid diutus untuk melakukan misi sama seperti yang telah dilakukan Yesus, sedangkan dalam pelayanan Yesus, Ia tidak hanya memberitakan Injil tetapi juga memperhatikan masalah sosial (Lukas 4:18-19).





BAB III
PENUTUP
Kesimpulan     :

Karena itu untuk melaksanakan misi sepenuhnya dari Amanat Kristus, maka Gereja harus berubah dari paradigma lama kepada paradigma yang baru. Mengapa? Karena Gereja dengan pola pikir lama memisahkan antara gereja dan dunia atau kehidupan di dunia sekuler. Yang sakral (gereja) dan yang sekuler (dunia) dipisahkan. Atau paling jauh gereja mempengaruhi ”dunia sekuler” dalam beberapa bidang pelayanan, contohnya membuka kebaktian atau pelayanan untuk kaum pengusaha dan profesional. Sedangkan Gereja dengan pola pikir baru adalah sebuah gereja yang mewarnai bumi dan memberikan pengaruh kuat. Allah memberikan sebuah tujuan kepada gerejaNya yaitu menghadirkan kerajaan Allah dalam setiap aspek kehidupan di dunia.Jadi, Gereja dengan pola pikir yang baru perlu mendemontrasikan kerajaan Allah di muka bumi ini. Gereja dipanggil untuk mengabarkan Injil keselamatan dan memenangkan jiwa bagi kerajaan Allah yang disertai dengan kuasa, mujizat dan tanda-tanda heran (Markus 16:15-18). Tetapi gereja juga mendapat tugas untuk menolong mereka yang miskin, menegakkan keadilan bagi mereka yang tertindas, memberdayakan manusia yang secitra dan segambar dengan Allah. Tujuan gereja adalah menghadirkan kerajaan Allah di bumi ini. Menghadirkan kerajaan Allah dalam setiap aspek kehidupan kita (termasuk dalam bidang pelayan sosial) merupakan proses mutlak agar mencapai misi Tuhan kita. Tuhan menginginkan setiap orang percaya bergabung ke dalam misi-Nya, “menjadikan semua bangsa muridNya”.













DAFTAR PUSTAKA

Charles C. Ryrie., 1991. Teology Dasar. Jilid 1 & 2, Terjemahan, Penerbit Andi Offset : Yoyakarta. 
C. Peter Wagner., 1993. Strategi Perkembangan Gereja. Terj, Penerbit Gandum Mas: Malang.
Henry C. Thiessen., 1992. Teologi Sistematika, direvisi Vernon D. Doerksen. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang
Jimmy B. Oentoro., 2004. Gereja Impian: Membangun Gereja Di Lanskap Yang Baru. Diterbitkan oleh PT. Harvest Citra Sejahtera: Jakarta. 
M. David Sills., 2011. Panggilan Misi: Menemukan Tempat Anda Dalam Rancangan Allah Bagi Dunia Ini. Terj, Penerbit Momentum: Jakarta.
Rick Warren., 2004. Kehidupan Yang Digerakkan oleh Tujuan. Terj, Penerbit Gandum Mas: Malang.
Sularso Supater, dkk., 1994. Sebuah Bunga Rampai Pertumbuhan Gereja. Penerbit ANDI: Yogyakarta. 
Widi Artanto., 1997. Menjadi Gereja Misioner. Penerbit Kanasius: Yokyakarta & BPK Gunung Mulia: Jakarta.
Iman David Santoso,2009. Theologi Matius.Litelatur SAAT: Malang